Puisi: Tertahan di Tenggorokan



Di senja itu

Aku dan kamu beradu pandang

Katamu, Aku akan pergi.

Kataku, Kapan kamu kembali?

Sayang, tanya itu tertahan di tenggorokan


Di senja itu

Aku dan kamu melempar senyum

Katamu, Aku pasti akan merindukanmu.

Kataku, Aku pun begitu.

Sayang, kalimat itu tertahan di tenggorokan


Di senja itu

Aku dan kamu melambaikan tangan

Katamu, Hati-hati.

Kataku, Tapi hatikulah yang kaubawa pergi.

Sayang, lagi-lagi tertahan di tenggorokan


Di senja ketika kita berpisah

Mendadak Lidahku kelu

Mulutku bisu

Aku gagu


Dan semua yang ingin kukatakan padamu

Hanya tertahan di tenggorokan


Di senja ketika kita berpisah

Aku menatap punggungmu yang semakin menjauh

Aku mencintaimu, lirihku.

Sayang, yang mendengar hanya rinai hujan


Tak apa, 

Setidaknya,

Tidak semua tertahan di tenggorokan

Comments